Selamatkan Cagar Budaya!!

Posted on Nopember 10th, 2008 in budaya, cagar budaya by situs

Benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; dan benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UU No. 5/1992 Pasal 1).

KELAS DALAM PERSEMAIAN KEBUDAYAAN

Posted on Nopember 10th, 2008 in budaya, perubahan sosial by situs

Peran sebagai apakah yang selalu ada dalam sinetron, film, atau drama tradisional di Indonesia? Yang pasti bukan perampok, pendekar, pengusaha, anak sekolah. Majikan dan Pembantu rumah tangga, merupakan peran yang selalu ada dalam setiap sinetron, film, maupun drama tradisional. Dalam drama tradisional, kethoprak misalnya, hampir setiap lakon selalu ada peran majikan (bendoro) dan pembantu rumah tangga (Batur). Dalam sinetron-sinetron terbaru, misalnya Cahaya, Azizah, atau sintron-sinetron lain peran majikan dan pembantu selalu ada. Dalam film yang bertema cinta sekalipun, seperti Eifel I am in Love, atau Ada Apa dengan Cinta, kedua peran ini tidak pernah hilang.

Aku Akan Tetap Hidup

Posted on Agustus 23rd, 2008 in Puisi by situs

Belum sembuh benar tubuh ini
Dari luka yang belum lama kau buat
Kini kau timpa lagi
Penderitaan yang tak berujung
Hendak kau buka kembali
Benang yang telah kau jahitkan
Di atas lukaku

Kurang apa aku pada kalian
Nafasmu aku cukupi
Perutmu aku kenyangkan
Hidupmu aku semua yang menanggung
Tapi kau malah melukai aku

Kau akan cepat mati
Dan aku masih akan bertahan
Meski dalam kelukaan
Demi kehidupan dan semesta
Setelah kau terkuburkan.

Solo, 28 Maret 2002

KEBUDAYAAN DALAM RENGKUHAN PASAR

Posted on April 25th, 2008 in Makalah Setyo Dwi Herwanto by situs

Oleh: Setyo Dwi Herwanto, S.S.

Pengantar

Larung Joko Tingkir yang digelar setiap tahun di Bengawan Solo senantiasa dipenuhi oleh pengunjung. Tidak hanya orang-orang yang berkepentingan untuk mengikuti ritual ini, namun juga orang-orang yang sengaja datang hanya untuk menonton dilangsungkannya ritual ini. Banyaknya pengunjung yang datang tersebut seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang yang mempunyai naluri bisnis yang besar untuk mengais rupiah. Baik dengan sekedar menjual air minum, makanan ringan, hingga jasa penitipan kendaraan.

MOTIF LARANGAN BATAS ANTARA PRIYAYI DAN KAWULA DI KARATON SURAKARTA HADININGRAT

Posted on April 16th, 2008 in Makalah Desi by situs

Oleh: Desy Nur Cahyanti, S.Sn.

 

A. PENDAHULUAN

Aji ning diri soko lathi, aji ning rogo soko busono adalah pepatah berbahasa Jawa yang mempunyai arti kehormatan diri datang karena mampu menjaga ucapan, kehormatan badan datang karena mampu berbusana (dengan baik). Kalimat tersebut belum diketahui siapa pengucapnya dan kapan pertama kali diucapkan, tapi satu hal yang pasti berasal dari penuturan masyarakat masa lampau yang hidup saat tanah Jawa diperintah dengan sistem kerajaan. Pengertian pepatah yang tertulis di atas dapat dijadikan indikasi bahwa kebutuhan atas penghargaan diri sangat tinggi terutama legalisasi pengakuan status tertentu oleh masyarakat luas.

Semiotika Kain Sindur pada Upacara Pernikahan Adat Jawa di Surakarta

Posted on April 14th, 2008 in Makalah Desi by situs

Oleh: Desi Nurcahyanti, S.Sn.

A. PENDAHULUAN

Globalisasi menyebabkan kebudayaan berkembang tanpa batas. Ruang dan waktu merupakan konteks untuk membedakan sejarah sebuah kebudayaan. Masing-masing bangsa di dunia berlomba untuk memperlihatkan keunggulan budaya yang dimiliki. Persengketaan perihal hak milik sebuah produk budaya adalah bentuk peperangan baru di zaman ini.

Mengenal Tata Upacara Pengantin Adat Jawa

Posted on April 14th, 2008 in Makalah Najma Talia by situs

( Sebuah Pendekatan Semiotika )

Oleh: Najma Thalia, S.S.

 

A. PENDAHULUAN

Secara kodrati, manusia diciptakan berpasang-pasangan (Q.S. Ar-Ruum : 21) dengan harapkan mampu hidup berdampingan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dari sini tampak bahwa sampai kapan pun, manusia tidak mampu hidup seorang diri, tanpa bantuan dan kehadiran orang lain.

Salah satu cara yang dipakai untuk melambangkan “bersatunya” dua insan yang berlainan jenis dan sah menurut agama dan hukum adalah pernikahan. Masing-masing daerah mempunyai tata upacara pernikahannya sendiri-sendiri. Dalam bahasan ini, penulis akan mencoba mendeskripsikan tata upacara pernikahan adat Jawa dipandang dari sudut pandang semiotika.

Halaman Berikutnya »